info@politeknikaceh.ac.id

Komite BPDPKS Berikan Kuliah Umum tentang Peran Industri Sawit di Politeknik Aceh

Arfie Thahar STP MM dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memberikan kuliah umum kepada sekitar 400 mahasiswa Politeknik Aceh di aula kampus pada Jumat, 8 Maret 2024. Kuliah umum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang peran industri kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia serta praktik semangat sawit yang baik.

Acara tersebut dibuka oleh Direktur Politeknik Aceh, Dr.Hilmi, S.E.,M.Si.,Ak.,CA. Turut hadir dalam acara ini perwakilan dari Dinas Perkebunan Aceh, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh sebagai perwakilan dari dunia usaha.

Dalam kuliah umumnya, Arfie Thahar menyoroti pentingnya industri kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki target produksi minyak sawit lebih dari 50 juta ton pada tahun 2025. Hal ini diharapkan dapat memberikan pasokan yang lebih banyak untuk industri makanan, termasuk minyak goreng dan makanan berbasis minyak sawit, serta bioenergi untuk pasar domestik dan ekspor global.

Selain itu, Arfie Thahar juga menjelaskan capaian, manfaat, dan penyaluran dana untuk program pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor kelapa sawit. Program ini meliputi kegiatan pelatihan dan pemberian beasiswa yang dinilai memiliki dampak yang signifikan.

Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Aceh, Dr. Hilmi, menyampaikan harapannya agar beasiswa yang dibiayai oleh BPDPKS dapat memberikan manfaat yang luas, baik bagi industri kelapa sawit, pemerintah, masyarakat, maupun petani kelapa sawit itu sendiri. Dr. Hilmi juga menambahkan harapannya agar Politeknik Aceh dapat dipercaya untuk mengelola lebih banyak lagi program beasiswa SDM di sektor kelapa sawit.

Acara kuliah umum ini juga dihadiri oleh para anggota komite pengembangan SDM di sektor kelapa sawit serta tim BPDPKS, antara lain Darmansyah Basyaruddin, Sri Gunawan, Sulthan M Yusa, Rangga Rahmananda, dan Lucki Bagus S.